Pages

Minggu, 03 Juni 2018

Akulturasi Budaya : Lebaran Ketupat

TUGAS MINI RISET
MATA KULIAH
METODOLOGI STUDI ISLAM
“LEBARAN KETUPAT”

Deskripsi 
Seperti yang kita tahu, umat islam memiliki dua hari raya, yaitu hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Tetapi, selain itu, di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa yang sangat kental sekali dengan berbagai budaya, ada perayaan Lebaran Ketupat (sering disebut Bakda Kupat)  yang dilaksanakan tepat seminggu setelah hari raya Idul Fitri atau tepatnya setelah melaksanakan puasa Syawal selama 6 hari. Katanya, jaman dahulu Lebaran Ketupat ini hanya dilaksanakan oleh seseorang yang telah mampu menyelesaikan puasa Syawal selama 6 hari. Tetapi dengan berjalannya waktu, Lebaran Ketupat ini dilaksanakan oleh seluruh masyarakat, tidak hanya yang berpuasa saja. Sehingga tidak heran jika seminggu setelah hari raya Idul Fitri akan ditemui beberapa ketupat ter-gantung di depan pintu rumah-rumah warga. Sebelum saya jelaskan untuk apa ketupat-ketupat itu harus digantung di depan pintu, saya akan menjelaskan sejarah singkat awal mula Lebaran Ketupat terlebih dahulu.
Singkatnya, konon Sunan Kalijaga lah yang pertama kali memperkenalkan tradisi ini kepada masyarakat Jawa. Mengapa Sunan Kalijaga menggunakan ketupat sebagai simbol tradisi ini? Alasannya adalah karena ketupat atau yang sering disebut kupat bermakna ngaku lepat, atau yang artinya adalah mengakui kesalahan. Sehingga, ketupat merupakan simbol yang tepat untuk menggambarkan sikap saling bermaaf-maafaan antar sesama dan mengakui kesalahan masing-masing. Dan ketupat merupakan menu utama yang menjadi ciri khas Lebaran Idul Fitri.
Pada saat perayaannya, hampir seluruh warga membuat bermacam-macam hidangan dengan menu utamanya adalah ketupat. Lalu mereka akan membagikannya kepada tetangga dan kerabat terdekat sebagai rasa kebersamaan dan menjaga silaturahmi antara satu dengan yang lainnya. Tidak hanya itu, hampir seluruh warga juga menggantungkan beberapa ketupat di depan pintu masuk rumah. Di daerah saya, bagi siapa saja yang pernah mengalami keguguran, maka orang itu wajib menggantung ketupat di depan pintu masuk rumahnya. Dan banyaknya ketupat yang harus digantung adalah tergantung berapa kali orang itu mengalami keguguran. Di daerah saya ada suatu kepercayaan bahwa anak yang keguguran itu bisa bertambah besar, dan biasanya anak itu mengajukan permintaan kepada ibunya (biasanya lewat mimpi). Dan untuk mencegah permintaan yang ‘aneh-aneh’, maka pada saat Lebaran Ketupat mereka harus menggantungkan ketupat di depan pintu masuk rumahnya. Dan juga hal itu juga mencegah timbulnya rasa iri pada si anak yang sudah tiada tadi. Maksudnya adalah sebagai contoh, rumah A dan B ada anggota keluarga yang pernah mengalami keguguran, lalu rumah A menggantung ketupat di pintu rumahnya sedangkan si B tidak, anak dari anggota rumah B nantinya akan iri, ‘Kenapa kok rumahku tidak digantung ketupat, sedangkan rumah A digantung ketupat?’. Jadi intinya, menggantungkan ketupat di depan pintu rumah bertujuan untuk menolak hal-hal yang tidak baik. Sehingga dapat dilihat bahwa hal itu telah menjurus kepada penggunaan ketupat sebagai jimat. 

Analisis Pribadi
Di sini saya akan memberikan komentar pribadi saya terkait dengan adanya Lebaran Ketupat, yang merupakan tradisi/budaya Jawa yang masih dilaksanakan oleh masyarakat sampai saat ini. Jika dilihat dari pelaksanaanya, Lebaran Ketupat ini dilaksanakan seminggu setelah Idul Fitri, yang dulunya digunakan sebagai tanda seseorang telah melaksanakan puasa Syawal selama  hari, maka Lebaran Ketupat ini masih ada unsur keislaman di dalamnya. Ditambah lagi jika dilihat dari tujuannya, sangat baik sekali jika kita menjaga silaturahmi antar tetangga dan keluarga, dan saling mengakui kesalahan antar sesama (walaupun hal ini bisa dilakukan kapan saja, tidak hanya pada Hari raya Idul Fitri saja). Dan hal itu juga sangat dianjurkan dalam Islam. Tetapi, apakah Lebaran Ketupat ini berasal dari ajaran Islam atau bukan? Hal ini membuat saya mencari-cari lagi sumber yang lebih akurat. Dan saya menemukan sebuah hadits yang membahas tentang Hari raya Islam. Hadits yang pertama adalah hadits dari Anas Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah S.A.W bersabda yang artinya : “Aku datang ke Madinah ketika penduduknya memiliki dua hari yang mereka bermain-main pada dua hari itu pada masa jahiliyyah, dan sesungguhnya Allah Ta’ala telah mengganti keduanya untuk kalian dengan yang lebih baik daripada keduanya : Iedul Fitri dan Iedul Adha.” (HR Ahmad, Abu Dawud+an Nasa’i). Jika dilihat dari hadits tersebut, Lebaran Ketupat bukanlah Hari raya umat islam, karena disitu hanya disebutkan Hari raya Idul Fitri dan Idul Adha saja. Sehingga, umat islam seharusnya tidak bisa membuat ataupun menambah Hari raya, karena Hari raya telah ditetapkan sesuai dengan syari’at. Tetapi, apabila ditanya tentang bid’ah atau tidaknya Hari raya Ketupat, ini masih belum pasti. Dan saya tidak berani menuliskan atau menyimpulkan bahwa Lebaran Ketupat ini bid’ah, karena masih ada beberapa pendapat tentang hal itu, disamping itu saya juga hanya menggunakan 1 acuan hadits saja. 
Menurut saya, tidak ada masalah jika tujuan kita hanya untuk melestarikan tradisi dan hanya sekedar menyajikan ketupat, dan menjadikannya ciri khas pada saat pelaksanaan Hari raya Idul Fitri. Tetapi dengan catatan tidak meyakininya sebagai ibadah, dan juga tidak perlu memasang beberapa ketupat dan menggantungkannya di pintu-pintu rumah, karena hal itu menjurus ke penggunaan ketupat tersebut sebagai jimat. Dan penggunaan jimat dalam Islam sangat tidak diperbolehkan (dilarang), karena dapat merusak tauhid.
Lalu, karena Lebaran Ketupat merupakan perayaan yang dilaksanakan sebagai tanda seseorang telah melaksanakan puasa Syawal selama 6 hari, maka yang harus diutamakan adalah puasa Syawalnya terlebih dahulu, dan setelahnya kita bisa menyambutnya dengan hidangan-hidangan dengan menu utama ketupat. Dengan artian menganggap ketupat sebagai ciri khas dari Idul Fitri itu sendiri, karena pada saat itu kita masih dalam suasana perayaan Idul Fitri. Sehingga dengan itu kita tidak akan menganggap Lebaran Ketupat sebagai ibadah. Dan Lebaran Ketupat masih bisa dilestarikan tanpa harus benar-benar dihilangkan.

2 komentar: