Pages

Selasa, 18 Februari 2014

Pengemis Kaya


 Pengemis Kaya

1.             Di suatu desa ada sebuah rumah yang besar dan mewah. Pekarangannya pun besar, ada banyak pohon dan bunga yang berwarna-warni, bahkan ada beberapa motor bagus. Begitulah rumah seseorang yang bernama Dadap, seorang pengemis kaya.
2.            Pada suatu pagi, Dadap bangun pagi-pagi sekali. Ia bergegas mandi, lantas ia pergi ke meja makan untuk sarapan. Setelah itu, ia mengganti pakaiannya dengan baju yang sudah kumal. Ia mengambil alat-alat yang digunakannya untuk bekerja, lantas pergi ke tempat kerja.
3.            Ia pun menuju ke tempat favoritnya, yaitu Pasar gading. Dengan sigap ia menyiapkan diri dengan ber-iba-iba melewati beberapa orang sambil berkata, “Kasihanilah saya, saya belum makan 3 hari, Tuan”. Yang melihatnya pun kasihan, lantas merogoh saku dan memberi Dadap uang seribuan rupiah.
      Hari makin siang. Semakin jarang orang lewat. Pasar menjadi sepi. Dadap pun pindah ke tempat lain.
      Ia menuju ke tempat lain, yaitu di depan Rumah Makan. Ia kembali beriba-iba di depan orang yang melewatinya sambil berkata, “Kasihanilah saya, Tuan. Anak saya sedang sakit di rumah”. Beberapa orang pun memberinya uang.
      Karena sudah merasa sedikit lelah, Dadap pun beristirahat. Ia menuju ke wedangan. Di sana, ia menghitung uangnya. Ia mendapatkan uang  yang cukup banyak, yaitu 90 ribu. Lantas ia pun menukarkan uang-uang receh yang diperolehnya dengan uang yang lebih besar nominalnya.
4.               Setelah dirasa cukup istirahatnya, ia kembali melanjutkan pekerjaannya. Kali ini, ia menuju ke Lampu merah. Dia menghampiri mobil-mobil yang berhenti sambil beriba-iba dan berkata, “Kasihanilah saya, Tuan. Ibu saya sedang sakit di rumah”. Beberapa orang ada yang memeberinya uang, tetapi ada juga yang tidak. Ketika lampu lalu lintas menunjukkan warna hijau, Dadap menepi dan duduk di trotoar sambil menunggu lampu lalu lintas menunjukkan warna merah kembali. Tetapi tiba-tiba dari arah yang berlawanan datang mobil Satpol PP. Para pengemis dan pedagang kaki lima berlari-lari menyelamatkan diri. Begitupun dengan Dadap. Belum sempat ia melarikan diri, ia ditarik oleh salah satu petugas dan dinaikkan ke mobil patroli.
      Ia pun dibawa ke Balai Sosial. Di sana ia diberi pengarahan agar tidak mengemis lagi. Bahkan ia pun di beri pekerjaan yang lebih layak.
5.               Namanya juga Dadap. Diberi pengarahan sepanjang apapun juga tetap tidak sadar. Ia bahkan menyogok petugas agar ia dibebaskan dan dibiarkan untuk mengemis lagi. Sepertinya ia lebih memilih belas kasihan dari orang daripada berusaha dengan tenaganya sendiri.


  



1 komentar:

  1. Bagus sekali, sudah sistematis. Hanya ada kesalahan pada penulisan huruf besar dan kecil, seperti Pasar gading, Rumah Makan.Lampu merah harusnya Pasar Gading, rumah makan, lampu.

    Tulis pikiran Anda yang lain dan jangan berhenti menulis.

    A

    BalasHapus