Pages

Senin, 09 Juni 2014

Binatang Langka di Indonesia


BINATANG LANGKA DI
INDONESIA
Binatang langka adalah binatang yang memiliki spesies yang berisiko punah, baik punah di alam liar (extinct in the wild) maupun sepenuhnya punah (extinct). Ada beberapa binatang langka yaitu, Badak Jawa, Badak Sumatera, Macan tutul Jawa, Rusa bawean, Harimau Sumatera, Beruk Mentawai, Orang utan Sumatera, Simpai Mentawai, Kanguru pohon mantel emas, Kanguru pohon mbaiso, Kera hitam Sulawesi. Selain itu ada juga Anoa dataran rendah, Anoa pengunungan, Ajag, Banteng, Bekatan, dan lain-lain.
Salah satu binatang langka tersebut adalah Komodo. Komodo adalah binatang melata terberat di dunia yang mempunyai berat 100 kg atau lebih. Ciri-ciri Komodo adalah, mempunyai kulit bersisik yang berwarna abu-abu, moncong yang lancip, tungkai lengan yang kuat, dan ekor yang berotot.
Komodo adalah salah satu binatang langka yang terancam punah.
Untuk itu, diperlukan langkah terintegrasi dalam proses pelestarian binatang langka tersebut. Beberapa langkah yang harus dilakukan dalam usaha pelestarian binatang langka, antara lain adalah sebagai berikut         :
1.    Memberikan pendidikan kepada masyarakat tentang pentingnya pelestarian binatang langka untuk tetap hidup di habitatnya.
2.    Mendukung setiap aktivitas pelestarian binatang langka yang dilakukan oleh lembaga pelestarian lingkungan.
3.    Membuat tempat penangkaran bagi hewan-hewan langka agar dapat berkembang biak untuk selanjutnya melepas hewan-hewan itu ke alam bebas agar dapat hidup secara alamiah.
4.    Tidak melakukan pemburuan binatang langka dan melaporkan setiap aktivitas perburuan binatang langka tersebut kepada pihak berwajib.
5.    Tidak melakukan transaksi terhadap binatang langka.

Teks Anekdot


Caleg stress
Pada suatu desa, hiduplah pria tua yang sangat kaya raya bernama Bejo. Rumahnya sangat besar, bahkan garasi rumahnya dipenuhi oleh mobil-mobil mewah yang mungkin harganya mencapai miliaran rupiah. Tetapi sayang, Bejo kurang disukai oleh orang-orang di desa tempat ia tinggal karena sifatnya yang sangat sombong dan tidak pernah mau berbaur.
Dari kecil Bejo bercita-cita untuk menjadi wakil politik, dan kebetulan sekali pada tanggal 9 April nanti Indonesia akan mengadakan Pemilihan Umum untuk anggota Legislatif. Karena sekarang Bejo sudah sangat kaya, ia mencalonkan diri sebagai calon Legislatif di bawah partai yang cukup terkenal di kalangan politik. Pada saat masa kampanye telah tiba, Bejo berusaha untuk mencari perhatian masyarakat. Ia datang ke tiap-tiap desa dan membagikan bantuan berupa uang, sembako dan pembangunan.”Jangan lupa coblos nomor 10 partai Matahari. Jika kalian memilih saya dan saya mendapat suara terbanyak sehingga saya akan menjadi salah satu anggota legislatif, saya akan memberikan bantuan yang lebih besar dari yang sekarang”, ucapnya di tengah keramaian warga.
“Benarkah ? bagaimana jika anda berbohong ?” , tanya salah satu warga.
“Haha, tidak mungkin. Bakar rumah saya jika saya berbohong”, jawabnya mantap.
“Lalu bagaimana jika anda kalah ?”, tanya warga lainnya. Bejo terdiam sejenak, lantas tertawa pelan.
“Itu lebih tidak mungkin. Saya yakin saya akan menang, saya ini orang yang sangat kaya. Masyarakat akan sangat membutuhkan bantuan saya untuk sedikit mengurangi beban ekonomi mereka”, jawab Bejo lagi. Tetapi kali ini ada kesombongan di nada bicaranya. Para warga hanya bisa menggelengkan kepalanya setelah mendengar pernyataan Bejo. Mereka kira Bejo adalah orang dermawan yang rendah hati, ternyata mereka salah, Bejo adalah orang dermawan yang tinggi hati.
Hari yang ditunggu-tunggu pun telah tiba. Bejo menghadiri acara Pemilu dengan wajah yang berseri-seri. Ia sangat yakin akan menjadi pemenang. Ia bahkan sudah membayangkan saat Panitia Pemilu menyatakan  Bejo Raharjo adalah peraih suara terbanyak.
Ternyata kenyataannya tidak seindah yang dibayangkan Bejo. Ia bukanlah pemenangnya, bahkan ia mendapat suara terendah.
“TIDAKKKKKK !! Seharusnya akulah pemenangnya!”, teriak Bejo. Suasana TPS mendadak ricuh, Orang-orang dengan sigap mengamankan Bejo dan membawanya ke rumah.
Sejak kejadiah itu, jiwa Bejo terganggu. Sudah 2 tahun ia menjadi penghuni Rumah Sakit Jiwa. Menurut pernyataan salah satu Perawat, di sana Bejo selalu mengenakan jas dan berperilaku layaknya anggota Legislatif.

Selasa, 18 Februari 2014

Pengemis Kaya


 Pengemis Kaya

1.             Di suatu desa ada sebuah rumah yang besar dan mewah. Pekarangannya pun besar, ada banyak pohon dan bunga yang berwarna-warni, bahkan ada beberapa motor bagus. Begitulah rumah seseorang yang bernama Dadap, seorang pengemis kaya.
2.            Pada suatu pagi, Dadap bangun pagi-pagi sekali. Ia bergegas mandi, lantas ia pergi ke meja makan untuk sarapan. Setelah itu, ia mengganti pakaiannya dengan baju yang sudah kumal. Ia mengambil alat-alat yang digunakannya untuk bekerja, lantas pergi ke tempat kerja.
3.            Ia pun menuju ke tempat favoritnya, yaitu Pasar gading. Dengan sigap ia menyiapkan diri dengan ber-iba-iba melewati beberapa orang sambil berkata, “Kasihanilah saya, saya belum makan 3 hari, Tuan”. Yang melihatnya pun kasihan, lantas merogoh saku dan memberi Dadap uang seribuan rupiah.
      Hari makin siang. Semakin jarang orang lewat. Pasar menjadi sepi. Dadap pun pindah ke tempat lain.
      Ia menuju ke tempat lain, yaitu di depan Rumah Makan. Ia kembali beriba-iba di depan orang yang melewatinya sambil berkata, “Kasihanilah saya, Tuan. Anak saya sedang sakit di rumah”. Beberapa orang pun memberinya uang.
      Karena sudah merasa sedikit lelah, Dadap pun beristirahat. Ia menuju ke wedangan. Di sana, ia menghitung uangnya. Ia mendapatkan uang  yang cukup banyak, yaitu 90 ribu. Lantas ia pun menukarkan uang-uang receh yang diperolehnya dengan uang yang lebih besar nominalnya.
4.               Setelah dirasa cukup istirahatnya, ia kembali melanjutkan pekerjaannya. Kali ini, ia menuju ke Lampu merah. Dia menghampiri mobil-mobil yang berhenti sambil beriba-iba dan berkata, “Kasihanilah saya, Tuan. Ibu saya sedang sakit di rumah”. Beberapa orang ada yang memeberinya uang, tetapi ada juga yang tidak. Ketika lampu lalu lintas menunjukkan warna hijau, Dadap menepi dan duduk di trotoar sambil menunggu lampu lalu lintas menunjukkan warna merah kembali. Tetapi tiba-tiba dari arah yang berlawanan datang mobil Satpol PP. Para pengemis dan pedagang kaki lima berlari-lari menyelamatkan diri. Begitupun dengan Dadap. Belum sempat ia melarikan diri, ia ditarik oleh salah satu petugas dan dinaikkan ke mobil patroli.
      Ia pun dibawa ke Balai Sosial. Di sana ia diberi pengarahan agar tidak mengemis lagi. Bahkan ia pun di beri pekerjaan yang lebih layak.
5.               Namanya juga Dadap. Diberi pengarahan sepanjang apapun juga tetap tidak sadar. Ia bahkan menyogok petugas agar ia dibebaskan dan dibiarkan untuk mengemis lagi. Sepertinya ia lebih memilih belas kasihan dari orang daripada berusaha dengan tenaganya sendiri.