Caleg stress
Pada suatu desa, hiduplah pria tua yang sangat
kaya raya bernama Bejo. Rumahnya sangat besar, bahkan garasi rumahnya dipenuhi oleh
mobil-mobil mewah yang mungkin harganya mencapai miliaran rupiah. Tetapi
sayang, Bejo kurang disukai oleh orang-orang di desa tempat ia tinggal karena
sifatnya yang sangat sombong dan tidak pernah mau berbaur.
Dari kecil Bejo bercita-cita untuk menjadi
wakil politik, dan kebetulan sekali pada tanggal 9 April nanti Indonesia akan
mengadakan Pemilihan Umum untuk anggota Legislatif. Karena sekarang Bejo sudah
sangat kaya, ia mencalonkan diri sebagai calon Legislatif di bawah partai yang
cukup terkenal di kalangan politik. Pada saat masa kampanye telah tiba, Bejo
berusaha untuk mencari perhatian masyarakat. Ia datang ke tiap-tiap desa dan
membagikan bantuan berupa uang, sembako dan pembangunan.”Jangan lupa coblos
nomor 10 partai Matahari. Jika kalian memilih saya dan saya mendapat suara
terbanyak sehingga saya akan menjadi salah satu anggota legislatif, saya akan
memberikan bantuan yang lebih besar dari yang sekarang”, ucapnya di tengah
keramaian warga.
“Benarkah ? bagaimana jika anda berbohong ?” , tanya salah satu
warga.
“Haha, tidak mungkin. Bakar rumah saya jika saya berbohong”,
jawabnya mantap.
“Lalu bagaimana jika anda kalah ?”, tanya warga lainnya. Bejo
terdiam sejenak, lantas tertawa pelan.
“Itu lebih tidak mungkin. Saya yakin saya akan menang, saya ini
orang yang sangat kaya. Masyarakat akan sangat membutuhkan bantuan saya untuk
sedikit mengurangi beban ekonomi mereka”, jawab Bejo lagi. Tetapi kali ini ada
kesombongan di nada bicaranya. Para warga hanya bisa menggelengkan kepalanya
setelah mendengar pernyataan Bejo. Mereka kira Bejo adalah orang dermawan yang
rendah hati, ternyata mereka salah, Bejo adalah orang dermawan yang tinggi
hati.
Hari yang ditunggu-tunggu pun telah tiba. Bejo
menghadiri acara Pemilu dengan wajah yang berseri-seri. Ia sangat yakin akan
menjadi pemenang. Ia bahkan sudah membayangkan saat Panitia Pemilu
menyatakan Bejo Raharjo adalah peraih
suara terbanyak.
Ternyata kenyataannya tidak seindah yang
dibayangkan Bejo. Ia bukanlah pemenangnya, bahkan ia mendapat suara terendah.
“TIDAKKKKKK !! Seharusnya akulah pemenangnya!”, teriak Bejo. Suasana
TPS mendadak ricuh, Orang-orang dengan sigap mengamankan Bejo dan membawanya ke
rumah.
Sejak kejadiah itu, jiwa Bejo terganggu. Sudah 2 tahun ia menjadi penghuni
Rumah Sakit Jiwa. Menurut pernyataan salah satu Perawat, di sana Bejo selalu
mengenakan jas dan berperilaku layaknya anggota Legislatif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar